IKLAN

Jumat, 01 Juni 2012

Download-Ensiklopedia IslamJilid 9 [Hukum-Hukum seputar Jihad di dalam Islam]


Jilid 9 [Hukum-Hukum seputar Jihad di dalam Islam]
Buku ini menjelaskan tentang jihad dijalan Allah yang mencakup tentang makna, hukum dan keutamaanya dalam islam, juga menjelaskan tentang adab berjihad dan kedudukan seorang yang mati syahid di jalan Allah.
Link Download

Ensiklopedia Jilid 10 (Dakwah dan hal2 yang berkaitan


Jilid 10 [Dakwah dan hal2 yang berkaitan dengannya]
Buku ini menjelaskan tentang Kesempurnaan agama Islam, Hikmah penciptaan manusia, Unversalitas agama Islam, Berda’wah kepada Allah, Kewajiban berda’wah kepada Allah, Prinsip dasar da’wah para Nabi dan Rasul, keutamaan dakwah.
Link Download

Ensiklopedi Islam Al-Kamil


VERSI CETAK oleh PENERBIT DARUSSUNNAH

Ensiklopedi Islam Al-Kamil

Memahami Islam secara umum, global dan singkat, bukanlah hal sulit di era sekarang, semuanya tergantung kepada keuletan dan kesungguhan masing-masing individu, serta kepandaian meraka dalam memilih referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Fasilitas dan sarana penunjang untuk memperdalam dan mengkaji Islam sangatlah mudah dan banyak didapat. Baik melalui studi pustaka, CD penunjang, internet, maupun dengan terbitnya buku-buku keislaman, terlebih maraknya berbagai macam Ensiklopedi Islam dengan kekhasannya masing-masing yang diterbitkan oleh beberapa penerbit di tanah air ini.
Kami pun turut hadir dalam menerbitkan Ensiklopedi Islam yang kami beri nama Al-Kamil. Sebuah nama yang sangat sederhana, namun sarat dan makna. Al-Kamil menunjukan makna bahwa kandungan isi Ensiklopedi ini, menggambarkan islamologi secara utuh dan lengkap.
Ensiklopedi Islam Al-Kamil ini berisi pengetahuan dinul Islam secara tematik. Dimulai dari bab Tauhid (keimanan), Akhlak, Adab, Do`a, Ibadah (thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, nikah dan lain-lain), Muamalah, Faraidh, Qishas, Hudud, dan lain-lain. Sehingga, siapa saja baik ia seorang da’I atau pun tidak, akan mudah baginya dalam mencari suatu permasalahan yang ingin ia ketahuinya.
Ensiklopedi yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri ini memiliki banyak kelebihan, di antaranya:
  1. Setiap tema utama selalu disertakan dalil ayat Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan sub tema setidaknya disertai dalil hadits.
  2. Semua hadits yang dijadikan dalil pada Ensiklopedi ini adalah hadits shahih atau hadits hasan.
  3. Dalil-dalil hadits pada tema utama atau sub tema didahulukan hadits-hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim atau salah satu dari keduanya. Bila tidak ada riwayat dari keduanya, maka disertakan hadits dari As-Sunan Al-Arba’ (At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’I, Ibnu Majah), Imam Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Ath-Thabrani.
  4. Takhrij hadits mengacu pada kitab-kitab Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, seperti As-Silsilah As-Shahihah, Irwa Al-Ghalil dan Shahih Al-Jami’.
  5. Tema dan sub tema diberi nomor atau tanda huruf.
Semoga hadirnya Ensiklopedi ini, dapat menambah daftar referensi dan hasanah pustaka keislaman kita. Terlebih bagi para pecinta ilmu pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya.
Keterangan [Update: 30 April 2011]
Price per Unit (piece): Rp195.000,00

Judul : Ensiklopedi Islam Al-Kamil
Penulis : Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri
Ukuran : 24,5 × 16 cm
Tebal : 1302 hlm
Berat : 1700 gr
ISBN : 979-3772-46-8

Kamis, 31 Mei 2012

PUASA KARENA IMAN DAN IKLAS



“Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
Kalimat di atas adalah maksud dari hadits Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22). Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu.
Salah seorang ulama di kota Riyadh, Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddady hafizhohullah memberikan faedah tentang hadits di atas:
1. Amalan yang dilakukan seseorang tidaklah manfaat sampai ia beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah (baca: ikhlas). Jika seseorang melakukan amalan tanpa ada dasar iman seperti kelakuan orang munafik atau ia melakukannya dalam rangka riya’ )(ingin dilihat orang lain) atau sum’ah (ingin didengar orang lain) sebagaimana orang yang riya’, maka yang diperoleh adalah rasa capek dan lelah saja. Kita berlindungi pada Allah dari yang demikian.
2. Sebagaimana orang yang beramal akan mendapatkan pahala dan ganjaran, maka merupakan karunia Allah ia pun mendapatkan anugerah pengampunan dosa -selama ia menjauhi dosa besar-.
3. Keutamaan puasa Ramadhan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan ikhlas adalah ia akan memperoleh pengampunan dosa yang telah lalu sebagai tambahan dari pahala besar yang tak hingga yang ia peroleh.
4. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang lain, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim). (Sumber: http://haddady.com/ra_page_views.php?id=311&page=19&main=7)
Semoga amalan puasa kita bisa membuahkan pengampunan dosa yang telah lalu.
Wallahu waliyyut taufiq.
Kotagede, 24 Sya’ban 1432 H (26/07/2011)

Jumat, 18 Mei 2012

TAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR


oLEH : Muhammad Abduh Tuasikal

Ada yang merasa bahwa ia sudah terlalu tua, malu jika harus duduk di majelis ilmu untuk mendengar para ulama menyampaikan ilmu yang berharga dan akhirnya enggan untuk belajar. Padahal ulama di masa silam, bahkan sejak masa sahabat tidak pernah malu untuk belajar, mereka tidak pernah putus asa untuk belajar meskipun sudah berada di usia senja. Ada yang sudah berusia 26 tahun baru mengenal Islam, bahkan ada yang sudah berusia senja -80 atau 90 tahun-baru mulai belajar. Namun mereka-mereka inilah yang menjadi ulama besar karena disertai 'uluwwul himmah (semangat yang tinggi dalam belajar). Menuntut ilmu agama adalah praktek yang sangat mulia.Lihatlah keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, " Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah). "
Imam yang telah sangat terkenal di tengah kita, Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata, " Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu. "
Berikut 10 contoh teladan dari ulama salaf di mana saat berusia senja, mereka masih semangat dalam mempelajari Islam.
Teladan 1 - Dari para sahabat radhiyallahu 'anhum
Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya, " Para sahabat belajar pada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baru ketika usia senja ".
Teladan 2 - kata Ibnul Mubarok
Dari Na'im bin Hammad, ia berkata bahwa ada yang bertanya pada Ibnul Mubarok, " Sampai kapan engkau menuntut ilmu? ""Sampai mati insya Allah ", jawab Ibnul Mubarok.
Teladan 3 - kata Abu 'Amr ibnu Al' Alaa '
Dari Ibnu Mu'adz, ia berkata bahwa ia bertanya pada Abu 'Amr ibnu Al' Alaa ', " Sampai kapan waktu terbaik untuk belajar bagi seorang muslim? "" Selama hayat masih dikandung badan ", jawab beliau.
Teladan 4 - Teladan dari Imam Ibnu 'Aqil
Imam Ibnu 'Aqil berkata, "Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktuku dalam umurku walau sampai hilang lisanku untuk berbicara atau hilang penglihatanku untuk banyak menelaah. Pikiranku masih saja terus bekerja ketika aku beristirahat. Aku tidak bangkit dari tempat dudukku kecuali jika ada yang membahayakanku. Sungguh aku baru menemukan diriku begitu semangat dalam belajar ketika aku berusia 80 tahun. Semangatku saat itu lebih dahsyat dari saat aku berusia 30 tahun ".
Teladan 5 - Teladan dari Hasan bin Ziyad
Az Zarnujiy berkata, "Hasan bin Ziyad pernah masuk di suatu majelis ilmu untuk belajar ketika usianya 80 tahun. Dan selama 40 tahun ia tidak pernah tidur di kasur ".
Teladan 6 - Teladan dari Ibnul Jauzi
Kata Adz Dzahabiy, "Ibnul Jauzi pernah membaca Wasith di depan Ibnul Baqilaniy dan kala itu ia berusia 80 tahun."
Teladan 7 - Teladan dari Imam Al Qofal
Al Imam Al Qofal menuntut ilmu ketika ia berusia 40 tahun.
Teladan 8 - Teladan dari Ibnu Hazm
Ketika usia 26 tahun, Ibnu Hazm belum mengetahui bagaimana cara shalat wajib yang benar. Asal dia mulai menimba ilmu diin (agama) adalah ketika ia menghadiri jenazah seorang terpandang dari saudara ayahnya. Ketika itu ia masuk masjid sebelum shalat 'Ashar, lantas ia langsung duduk tidak mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Lalu ada gurunya yang berkata sambil berisyarat, "Ayo berdiri, shalatlah tahiyatul masjid". Namun Ibnu Hazm tidak paham. Ia lantas diberitahu oleh orang-orang yang bersamanya, "Kamu tidak tahu kalau shalat tahiyatul masjid itu wajib?" (*) Ketika itu Ibnu Hazm berusia 26 tahun. Ia lantas merenung dan baru memahami apa yang dimaksud oleh gurunya.
Kemudian Ibnu Hazm melakukan shalat jenazah di masjid. Lalu ia bertemu dengan kerabat si mayit. Setelah itu ia kembali memasuki masjid. Ia segera melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Kemudian ada yang berkata pada Ibnu Hazm, "Ayo duduk, ini bukan waktu untuk shalat" (**).
Setelah dinasehati seperti itu, Ibnu Hazm akhirnya mau belajar agama lebih dalam. Ia lantas menanyakan di mana guru tempat ia bisa menimba ilmu. Ia mulai belajar pada Abu 'Abdillah bin dahun. Kitab yang ia pelajari adalah mulai dari kitab Al Muwatho 'karya Imam Malik bin Anas.
* Perlu diketahui bahwa hukum shalat tahiyatul masjid menurut jumhur-mayoritas ulama-adalah sunnah. Sedangkan menurut ulama Zhohiriyah, hukumnya wajib.
** Menurut sebagian ulama tidak bisa melakukan shalat tahiyatul masjid di waktu terlarang untuk shalat seperti setelah shalat Ashar. Namun yang tepat, masih bisa shalat tahiyatul masjid meskipun di waktu terlarang shalat karena shalat tersebut adalah shalat yang ada sebab.
Teladan 9 - Teladan dari Syaikh 'Izzuddin bin' Abdis Salam
Beliau adalah ulama yang sudah sangat tersohor dan memiliki lautan ilmu. Pada awalnya, Imam Al 'Izz sangat miskin ilmu dan beliau baru sibuk belajar ketika sudah berada di usia senja.
Teladan 10 - Teladan dari Syaikh Yusuf bin Rozaqullah
Beliau diberi umur yang panjang hingga berada pada usia 90 tahun. Ia sudah sulit mendengar kala itu, namun panca indera yang lain masih baik. Beliau masih semangat belajar di usia senja seperti itu dan semangatnya seperti pemuda 30 tahun.
Jika kita telah mengetahui 10 teladan di atas dan masih banyak bukti-bukti lainnya, maka seharusnya kita lebih semangat lagi untuk belajar Islam. Dan belajar itu tidak pandang usia. Mau tua atau pun muda sama-sama punya kewajiban untuk belajar.Inilah yang penulis sendiri saksikan di tengah-tengah belajar di Saudi Arabia, banyak yang sudah ubanan namun masih mau duduk dengan ulama-ulama besar seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan, bahkan mereka-mereka ini yang duduk di shaf terdepan.
Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata,
من لا يحب العلم لا خير فيه
"Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya."
Ya Allah berkahilah umur kami dalam ilmu, amal dan dakwah. Wabillahit taufiq.


Referensi:
'Uluwul Himmah, Muhammad bin Ahmad bin Isma'il Al Muqoddam, terbitan Dar Ibnul Jauzi, hal. 202-206.

IKHLAS BERIBADA KARENA ALLAH


Seseorang yang beribadah ikhlas karena Allah dan tidak mengharap balasan dunia semata, maka Allah akan menundukkan dunia padanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. 
Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya. "(HR. Tirmidzi no. 2465. shahih) Baca pembahasan "Amat disayangkan , Banyak Sedekah Hanya untuk Mengharap Dunia "